Translator

Tampilkan postingan dengan label Pustaka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pustaka. Tampilkan semua postingan


Kondisi yang sangat panas, lembab atau pakaian yang berlebihan, dapat dengan mudah meningkatkan suhu tubuh menjadi 41 C – 42 C.
Pada tingkat ini, kenaikan suhu (tubuh) itu sendiri menjadi bersifat destruktif terhadap sel-sel jaringan terutama merusak sel-sel otak. Apabila hal ini terjadi, mulai timbul berbagai gejala meliputi kelemahan yang ekstrem, kelelahan, nyeri kepala, pusing, mual, banyak berkeringat, kebingungan, gaya berjalan sempoyongan, kolaps, dan tidak sadar.
Keseluruhan kompleks ini disebut Heat stroke dan kegagalan mengatasi hal ini dengan segera dapat mengakibatkan kematian.
(Fisiologi Kedokteran, Guyton & Hall, 1997)
Berikut ini terdapat beberapa versi alur fisiologis tubuh akibat paparan panas yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan-gangguan fungsi kerja tubuh manusia atau gejala-gejala yang disebabkan karena paparan panas yang melebihi ambang batas kenormalan yang dapat diterima oleh tubuh manusia.




Tubuh manusia terpapar panas secara langsung dalam jangka waktu yang lama dapat mengalami penyakit yaitu menurunnya daya tahan tubuh dan berpengaruh terhadap timbulnya gangguan kesehatan. Suhu  panas menyebabkan suhu permukaan naik. Maka sistem termoregulator yang ada di otak (Hipotalamus) akan merespon dengan menggunakan beberapa mekanisme kontrol seperti konduksi, konveksi, radiasi dan evaporasi dengan tujuan untuk mempertahankan suhu tubuh sekitar 36 °C – 37° C yaitu dengan memindahkan panas dari dalam tubuh ke pori-pori sehingga panas akan hilang melalui penguapan / evaporasi.
Karena adanya panas maka akan terjadi pelebaran pembuluh darah ke kulit akan meningkat. Akibatnya panas tubuh yang dikeluarkan melalui proses konveksi akan meningkat pula. Dengan adanya pelebaran pembuluh darah kulit ini menyebabkan resistensi perifer menurun sehingga untuk dapat tetap mempertahankan aliran darah ke jaringan, jantung harus bekerja lebih berat. Pada suatu saat, apabila paparan panas berkelanjutan dapat terjadi timbunan darah di daerah perifer secara berlebihan. Akibatnya aliran darah ke otak akan berkurang. Dalam keadaan seperti ini akan menyebabkan pingsan.
Heat cramp dialami dalam lingkungan yang suhunya tinggi sebagai akibat bertambahnya keringat yang menyebabkan hilangnya garam natrium dari tubuh, dan sebagai akibat banyak minum air, tapi tidak diberi garam untuk pengganti garam natrium yang hilang. Heat cramp terasa sebagai kejang. Kejang otot tubuh dan perut yang sangat sakit. Di samping kejang-kejang juga ada gejala yang biasa pada heat stress yaitu pingsan, kelemahan, mual (enek) dan muntah.
Heat Exhaution biasanya terjadi pada cuaca yang sangat panas, penderita berkeringat sangat banyak tapi suhu badan normal atau sub normal, tekanan darah menurun, nadi lebih cepat, penderita merasa lemah atau mungkin pingsan.
Heat stroke biasanya yang terkena adalah laki-laki yang pekerjaannya berat dan belum beraklimatisasi. Gejala yang penting suhu badan naik, kulit kering dan panas. Gejala syaraf pusat seperti vertigo, tremor, konvulsi dan delirium. Heat stroke disebabkan dilatasi pembuluh darah dan keringat berlebihan. Pada tahap lanjut apabila tubuh tidak dapat berkompensasi akibatnya tubuh tidak dapat berkeringat lagi sehingga suhu inti tubuh naik dan terjadilah heat stroke.

Untuk informasi lebih lanjut silakan download di link dibawah ini


Read More ...

0 comments



DEFINISI
Aids merupakan efek dari perkembang biakan virus HIV dalam tubuh makhluk hidup. Virus yang menginfeksi system kekebalan tubuh  merusak fungsi sel sel kekebalan tubuh sehingga system kekebalan tubuh semakin lemah dan individu semakin rentan terhadap penyakit-penyakit. (WHO)

PENYEBAB
HIV adalah anggota dari genus lentivirus, bagian dari keluarga retroviridae  yang ditandai dengan periode latensi yang panjang dan sebuah sampul lipid dari sel-host awal yang mengelilingi sebuah pusat protein/RNA. Dua spesies HIV menginfeksi manusia: HIV-1 dan HIV-2. HIV-1 adalah yang lebih "virulent" dan lebih mudah menular, dan merupakan sumber dari kebanyakan infeksi HIV di seluruh dunia; HIV-2 kebanyakan masih terkurung di Afrika barat



GEJALA
Gejala Aids meliputi :
1)    Gejala Mayor:
(a)    Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan
(b)    Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan
(c)    Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan
(d)    Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis
(e)    Demensia/ HIV ensefalopati

2)   Gejala Minor:
(a)   Batuk menetap lebih dari 1 bulan
(b)   Dermatitis generalisata
(c)    Adanya herpes zostermultisegmental dan herpes zoster berulang
(d)    Kandidias orofaringeal
(e)    Herpes simpleks kronis progresif
(f)     Limfadenopati generalisata
(g)    Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita
(h)    Retinitis virus sitomegalo

Tahap / Stadium AIDS
 Ada beberapa Tahapan ketika mulai terinfeksi virus HIV sampai timbul gejala AIDS:
1)   Tahap 1: Periode Jendela
a)     HIV masuk ke dalam tubuh, sampai terbentuknya antibody terhadap HIV dalam darah
b)     Tidak ada tanda2 khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat
c)     Test HIV belum bisa mendeteksi keberadaan virus ini
d)     Tahap ini disebut periode jendela, umumnya berkisar 2 minggu - 6 bulan
2)   Tahap 2: HIV Positif (tanpa gejala) rata-rata selama 5-10 tahun:
a)    HIV berkembang biak dalam tubuh
b)   Tidak ada tanda-tanda khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat
c)  Test HIV sudah dapat mendeteksi status HIV seseorang, karena telah terbentuk antibody terhadap HIV
d)  Umumnya tetap tampak sehat selama 5-10 tahun, tergantung daya tahan tubuhnya (rata-rata 8 tahun (di negara berkembang lebih pendek)
3)   Tahap 3: HIV Positif (muncul gejala)
a)   Sistem kekebalan tubuh semakin turun
 b)  Mulai muncul gejala infeksi oportunistik, misalnya: pembengkakan kelenjar limfa di  seluruh tubuh, diare terus menerus, flu, dll
 c)   Umumnya berlangsung selama lebih dari 1 bulan, tergantung daya tahan tubuhnya
 4)    Tahap 4: AIDS
a)    Kondisi sistem kekebalan tubuh sangat lemah
b)    Berbagai penyakit lain (infeksi oportunistik) semakin parah

Penyebaran HIV AIDS
Menurut CDC penyebaran Aids meliputi
a.    Penyebaran HIV yang paling utama adalah:
1)     Tidak menggunakan kondom ketika berhubungan sex dengan penderita HIV
2)   Mempunyai partner sex yang banyak atau mempunyai penyakit menular sex lain dapat meningkatkan risiko infeksi
3)      Berbagi jarum suntik
4)      Lahir dari ibu yang terinfeksi HIV
b.    Penyebaran yang lainnya dapat melalui :
1)     Tertusuk jarum yang terkontaminasi HIV. Biasanya terjadi pada tenaga kesehatan.
2)     Menerima transfusi darah, transplantasi organ/ jaringan yang terkontaminasi HIV.
3)     Makanan yang dikunyahkan oleh penderita HIV. Kontaminasi muncul ketika darah  penderita HIV bercampur dengan makanan ketika dikunyah(sangat jarang terjadi dan hanya ditemukan pada balita yang dikunyahkan).
4)     Kontak antara kulit yang rusak, luka atau membran mukosa dengan darah yang terinfeksi HIV atau darah yang terkontaminasi cairan tubuh.
5)     Kecil kemungkinan ditularkan melalui French kiss jika mulut atau gusi berdarah.
6)     Tato atau tindik menunjukkan penyebaran potensial HIV namun tidak ada kasus   penularan HIV dari aktivitas ini yang dilaporkan. Tatto dan tindik seharusnya memakai alat yang steril.
7)     Pernah dilaporkan di Eropa dan Afrika Utara dimana bayi terinfeksi melalui jarum kemudian menularkan ke ibunya saat menyusui
HIV tidak dapat berkembang biak diluar tubuh, sehingga tidak menyebar melalui :Air atau udara, serangga termasuk nyamuk, air mata, keringat, jabat tangan, social kissing.

Pencegahan HIV AIDS  (www.CDC.gov) :
1)  Ketahui status HIV. Semua orang yang berusia antara 13 dan 64 tahun harus di test HIV setidaknya sekali. Jika berada di lingkungan yang berisiko tinggi HIV, maka test dilakukan setidaknya sekali setahun.
2)  Abstain (tidak melakukan hubungan seksual atau menjalani hubungan monogamy dengan orang yang tidak tertular)
3)  Batasi jumlah partner sex. Semakin kecil partner sex, semakin kecil orang lain tertular HIV atau penyakit PMS lain.
4)  Menggunakan condom secara benar dan terus menerus. Kondom Latex lebih efektif mencegah penularan HIV dan PMS lain.
5)    Menjalani test dan pengobatan PMS termasuk partner sex juga.
6)    Sirkumsisi bagi pria juga menunjukkan dapat mengurangi penyebaran HIV
7)  Mengurangi atau menghentikan penggunaan obat suntik. Jika tidak dapat menghentikan obat suntik, gunakan jarum steril  
8)   Memperoleh pengobatan medis segera jika merasa terpapar HIV. Terkadang pengobatan dapat mencegah infeksi jika cepat diperoleh. Ini disebut post-exposure prophylaxis

Pencegahan HIV (www.who.org) meliputi : Penggunaan kondom secara tepat dan konsisten, mengurangi jumlah partner sex, tes HIV dan konseling, menunda hubungan sex,pengobatan PMS dan sirkumsisi bagi pria.
WHO merekomendasikan pemberian imunisasi bagi anak-anak dengan infeksi HIV tanpa gejala dengan vaksin-vaksin EPI (EXPANDED PROGRAMME ON IMMUNIZATION); anak-anak yang menunjukkan gejala sebaiknya tidak mendapat vaksin BCG. Di AS, BCG dan vaksin oral polio tidak direkomendasikan untuk diberikan kepada anak-anak yang terinfeksi HIV tidak perduli terhadap ada tidaknya gejala, sedangkan vaksin MMR (measles-mumps-rubella) dapat diberikan kepada anak dengan infeksi HIV.

Pencegahan dan pengendalian infeksi bagi tenaga kesehatan (WHO) :
a)  Lakukan kebersihan tangan (gunakan sabun dan air atau alkohol oles), dan cuci pergelangan tangan dan sela sela jari-jari, paling tidak 30 detik.
b)  Gunakan sepasang sarung tangan untuk 1 pasien atau 1 prosedur (jangan menggunakan sarung tangan yang sama untuk lebih dari 1 pasien)
c)   Gunakan spuit, jarum suntik atau lancet untuk 1 pasien
d) Disinfeksi/bersihkan kulit tempat penusukan (jangan menyentuh lokasi penusukan setelah didisinfeksi)
e)   Jangan meninggalkan jarum tanpa penutup terletak di luar sharp container (tempat jarum)
f)    Jangan menutup kembali jarum suntik menggunakan kedua tangan
g)   Sharp container (container jarum) jangan sampai terlalu penuh
h)  Letakkan tabung sampel lab di rak yang kokoh sebelum menyuntik, hindari menyuntik sambil memegang tabung sampel lab
i)  Laporkan segera kejadian / kecelakaan yang berhubungan dengan jarum suntik dan cari pertolongan. Post Exposure Prophylaxis tidak efektif lebih dari 72 jam.

  Penatalaksanaan
a.   Penatalaksanaan bagi yang terpapar / terkena HIV (WHO)
Rujuk orang yang terkena risiko penularan kepada orang yang terlatih untuk mendapatkan evaluasi medis.  Keputusan dilakukan tindakan PEP (Post Exposure Prophylaxis)  atau tidak harus berdasarkan beberapa kriteria yaitu :
1)      PEP direkomendasikan bila memenuhi kriteria :
a)  Terpapar dalam waktu kurang dari 72 jam
b)  Individu yang terpapar tidak diketahui terinfeksi HIV
c)   Sumber paparan adalah infeksi HIV atau tidak diketahui
d)   Paparannya adalah satu atau lebih dari : darah, jaringan tubuh, cairan tampak bernoda darah, terkonsentrasi virus, cairan cerebrospinal, cairan sinovial, cairan pleura, cairan peritoneal, cairan ketuban,
e)   Paparan melalui satu atau lebih hal berikut: penetrasi kulit dengan perdarahan secara spontan atau luka tusuk yang dalam, terpercik sejumlah cairan ke membran mukosa
2)      PEP tidak direkomendasikan bila :
a)      Lebih dari 72 jam sejak terkena
b)     Orang yang terpapar sudah positif HIV
c)     Paparan ke cairan tubuh dari orang yang diketahui negatif HIV (sekalipun orang ini terindikasi risiko tinggi terinfeksi dan berada pada tahap jendela
d)     Paparan berupa cairan non infeksius tubuh (misal feses, air ludah, urin, atau keringat)

b.   Pengobatan.
Pengobatan HIV Aids secara medis menggunakan obat  anti-retroviral virus (ARV). ARV adalah suatu obat yang adapat digunakan untuk mencegah reproduksi retrovirus ( virus yang terdapat pada HIV). Obat ini tidak untuk mencegah penyebaran HIV dari orang yang terinfeksi ke orang lain, tidak untuk menyembuhkan infeksi HIV dan juga tidak berfungsi untuk membunuh virus (agar tidak berkembang menjadi AIDS karena jika hal ni terjadi maka akan membuat kerusakan pada sel tubuh yang terkena infeksi virus tersebut). Antiretroviral digunakan untuk memblokir atau menghambat proses reproduksi virus, membantu mempertahankan jumlah minimal virus di dalam tubuh dan memperlambat kerusakan sistem kekebalan sehinga orang yang terinfeksi HIV dapat merasa lebih baik/nyaman dan bisa menjalani kehidupan normal.

c.    Nutrisi
a.  Terdapat hubungan yang komplex antara HIV dan nutrisi. HIV menurunkan sistem imun secara terus menerus dan menyebabkan terjadinya malnutrisi. Malnutrisi menyebabkan menurunnya sistem imun. Malnutrisi memperburuk efek HIV dan mempercepat proses AIDS.(WHO)
b.  The Durban consultation meeting  Nutrition and HIV/AIDS (2005 ) menyebutkan 6 area penting yang memerlukan perhatian dalam perawatan dan pengobatan orang pengidap HIV AIDS, yaitu
1)      Macronutrient
2)      Micronutrient,
3)      Nutrisi pada wanita hamil dan menyusui,
4)      Gangguan tumbuh kembang anak,
5)      Pemberian asi dan penyebaran HIV
6)   ARV (anti retro virus). Area tersebut memberikan nutrisi adequate dan merupakan intervensi yang penting bagi penderita HIV.
c.    Nutrisi yang optimal dapat menolong penderita dalam :
1)   Mempertahankan berat badan sehingga meningkatkan produktivitas status kesehatan
2)  Menurunkan masalah kesehatan yang diakibatkan oleh HIV seperti diare, penurunan  masa otot, berat badan turun dan demam.
3)    Meningkatkan sistem kekebalan melalui pemberian vitamin dan mineral
4)    Meningkatkan efektivitas pengobatan melawan infeksi and Anti Retroviral Terapi.
5)  Nutrisi merupakan bagian yang penting dalam perawatan HIV, perawatan dan pengobatan HIV bukan hanya dengan menyediakan anti-retroviral.
Prof. Nigel Rollins, Maternal and Child Health, University of KwaZulu-Natal, Afrika Selatan mengatakan diperlukan nutrisi yang tinggi bagi penderita HIV terutama berkaitan dengan infeksi HIV dan kemungkinan terjangkitnya infeksi yang berhubungan dengan HIV. Energi diperlukan ketika :10 % ketika tanpa gejala, 25-30% dengan TB, penyakit paru-paru kronis dan diare persisten, 50-100 % ketika terjadi malnutrisi yang serius.  Efisiensi penggunaan energi juga dipengaruhi dari ketersediaan micronutrien. Meskipun demikian diperlukan keseimbangan diet diantara semua nutrient (makro dan mikro).
Penurunan selera makan dan asupan makanan merupakan penyebab utama terjadinya penurunan berat badan pada penderita AIDS. Pertumbuhan yang terganggu biasanya terjadi pada anak yang terinfeksi HIV dan menunjukkan perkembangan penyakit HIV serta mengurangi harapan hidup. Diare pada anak biasanya berhubungan dengan kegagalan pertumbuhan.

Pengaruh Sosial bagi penderita AIDS
Penderita Aids seringkali mendapat reaksi yang tidak baik dengan masyarakat. Hal terkait persepsi masyarakat terhadap penyakit ini. Kurangnya sosialisasi tentang penyakit Aids menimbulkan berbagai tindakan yang berefek penderita dikucilkan. Tindakan-tindakan pengasingan penolakan, diskriminasi, dan penghindaran atas orang-orang yang diduga terinfeksi HIV merupakan dampak sosial yang mereka terima di masyarakat. Oleh karena itu, beberapa intervensi dilakukan untuk mengurangi efek tersebut diantaranya :
a.   Pendekatan secara informasi, pendekatan ioni bias dilakukan dengan memasanga iklan, leaflet, penyuluhan kesehatan, dan presentasi kesehatan di kelas atau di perkuliahan. Inforamsi yang disampaikan definisi penyakit, cara-cara penularan, cara-cara untuk menurunkan resiko penularan.
b.   Pendekatan secara konsultasi,
c.   Kontak dengan grup yang terpapar di masyarakat
d.   Meningkatkan tingkat pengetahuan masyarakat


Download file + daftar pustaka dibawah ini
 

Read More ...

0 comments



A. Pengertian
Konjungtivitis adalah inflamasi dari konjungtiva dan ditandai dengan pembengkakan dan eksudat (Brunner & Suddarth, 2002). Pendapat lain menyatakan bahwa konjungtivitis merupakan suatu peradangan konjungtiva yang disebabkan bakteri, virus, jamur, chlamidia, alergi atau iritasi dengan bahan-bahan kimia (RSUD Dr.Soetomo, 1994)
Nettina (2001) konjungtivitis adalah inflamasi atau infeksi konjungtiva, membran anterior kelopak mata.

B.  Anatomi
Darling (1996), konjungtiva adalah membran mukosa (selaput lendir) yang melapisi keopak dan melipat ke bola mata untuk melapisi bagian depan bola mata sampai limbus, dimana konjungtiva berbatasan dengan lapisan supervisial kornea.

Konjungtiva yang melapisi kelopak mata yaitu konjungtiva palpebrae sangat vaskuler (banyak mengandung pembuluh darah). Konjungtiva ini lebih tebal daripada konjungtiva bulbi yang menutupi bagian depan bola mata sampai tepi kornea. Sclera dapat dilihat lewat konjungtiva bulbi.
Konjungtiva palpebrae dan konjungtiva bulbi dipisahkan oleh ruang potensial, yaitu sakus konjungtiva, yang dibentuk oleh refleksi (pembalikan) konjungtiva diatas permukaan dalam palpebra dan sclera.
Konjungtiva memberikan perlindungan kepada sclera dibawahnya dan memberikan pelumasan kepada bola mata yang diperankan oleh glandula mukosa dan serosa. Artena papebralis menyediakan darah kulit kelopak mata dan arteri oftalmika dan fasialis menyediakan darah ke seluruh palpebra dan konjungtiva.

C. Etiologi
Etiologi konjungtivitis menurut Voughan (2000) adalah
1.    Bakterial
a.    Hiperakut (purulen) : Neisseria Gonnorhoea, N. Meningitis, N.Gonorrhoea sub kochii
b.    Akut (Mukupurulen): Pneumokokkus / Strept Pneumoniae, Haemophillus Aegyptius (iklim tropik)
c.    Subakut : Haemophillus Influenzae (iklim sedang)
d.    Menahun : Staphilococcus aureus, Maxella Lacunata
e.    Lain-lain : Streptococci, Calliform, Corynebact.Diptheriae, M. Tuberculose

2.    Klamidial
a.    Trachoma (Chlamydia Trachomatitis Serotipe A-C)
b.    Konjungtivitis Inklusi (Chlamydia trachomatis Serotipe D-K)
c.    Limfogranuloma Venerum (LGV)

3.    Virus
a. Konjungtivitis folikuler virus akut: demam faringokonjungtivitis (Adenovirus tipe 3 dan 7), kerotokonjungtivitis epidemika (Adenovirus tipe 8 dan 19), virus herpes simplex, konjungtivitis hemoragik akut (Enterovirus tipe 70)
b.    Konjungtivitis folikuler virus menahun : virus molluscum contogjosum
c.    Blefarokonjungtivitis karena virus : Varicella, herpes zoster

4.    Ricketsia, Konjungtivitis non purulen dengan hiperemia

5.    Fungal
a.    Eksudatif menahun : Candida
b.    Granulomatosa : Rhinosporidium Seeberi, Sporotix Schenckii

6.    Parasitik
Konjungtivitis dan blefarokonjungtivitis menahun : Ascaris Lumbricoides, Taenia Solium, Schistosa Haemotobium, Loa-Loa

7.    Immunologik (allergic)
a.    Reaksi hipersensitivitas segera (humoral)
b.    Reaksi hipersensitivitas tertunda (seluler)
c.    Penyakit autoimun

8.    Kimia atau iritatif
a.    Latrogenik : miotika Idoxuridine, Obat topical lain, larutan lensa kontak
b.    Berhubungan denga pekerjaan : asam, basa, asap, angin, cahaya ultra violet, bulu ulat.

9.    Etiologi yang tidak dapat diketahui
Folikulosis, Konjungtivitis folikuler menahun, psoriasis, dermatitis herpetiformis, Epidermolisis Bulosa, konjungtivitis Ligneosa.


D.  Tanda dan Gejala
o   Penglihatan kabur
o   Sakit mata
o   Terbentuk kerak pada kelopak mata pada malam hari
o   Peningkatan air mata
o   Terasa seperti ada pasir di mata
o   Gatal di mata
o   Kemerahan pada mata
o   Peka terhadap cahaya

E.   Tipe
1)    Konjungtivitis Kataral
Gambaran klinisnya adalah infeksi konjungtiva dan hiperemi konjungtiva tarsal, tanpa folikel, tanpa cobbe stone dan tanpa flikten. Pada konjungtivitis kataral berbentuk sekres serus, mukus atau mukopurulen tergantung penyebabnya.
2)    Konjungtivitis purulen, mukopurulen
Terdapat sekret purulen seperti nanah, kadang disertai massa putih di konjungtiva tarsal
3)    Konjungtivitis membran
Ditandai dengan adanya membran / selaput berupa massa putih pada konjungtiva tarsal dan kadang-kadang juga menutupi konjungtiva bulbi. Massa putih ini ada 2 jenis yaitu membran dan pseudomembran.
Konjungtivitis membran dapat disebabkan oleh infeksi streptococ hemolitik dan infeksi difteria. Konjungtivitis pseudomembran disebabkan infeksi yang hiperakut seperti infeksi pneumococ
4)    Konjungtivitis folikuler
Meliputi konjungtivitis viral, konjungtivitis klamidia, konjungtivitis folikular toksik dan konjungtivitis folikuler yang tidak diketahui penyebabnya. Tanda-tanda radang tampak menonjol pada konjungtivitis toksid lebih sering radang tidak akut.
5)    Konjungtivitis Vernal
Banyak ditemukan pada usia 5-25 tahun, gejala subjektif yang menonjol adalah rasa sangat gatal pada mata, terutama bila berada di lapangan terbuka yang panas terik. Sekret pada mata dasarnya mukoid dan menjadi mukopurulen apabila terdapat infeksi sekunder.
6)    Konjungtivitis Flikten
Sebagian besar diderita anak-anak. Gejalanya adalah flikten yang umumnya dijumpai di limbus. Selain itu, flikten juga ditemukan pada konjungtiva bulbi, konjungtiva tarsal dan kornea. Apabila flikten timbul pada kornea dan sering kambuh maka berakibat gangguan penglihatan.

F.   Pengobatan
Pengobatan spesifik tergantung dari identifikasi penyebab. Konjungtiva karena bakteri dapat diobati dengan sulfonamide (Sulfetamide 15%), atau antibiotika (Gentamycin 0,3 %, Chloramphenicol 0,5%).
Konjungtiva karena jamur sangat jarang, sedangkan konjungtiva karena virus pengobatannya terutama ditujukan untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder (antibiotika)
Konjungtiva karena alergi diobati dengan anti histamine (Antazoline 0,5%, Naphazoline 0,05%) atau kortikosteroid (misal Dexamethasone 0,1%) (RSUD Dr.Soetomo, 1994).
Pendapat senada dikemukakan “American Optometric Association” yang menyatakan bahwa pengobatan konjungtivitis disesuaikan dengan penyebabnya :
a)    Konjungtivitis Alergi
Penderita perlu menghindari / menghilangkan allergen. Kompress dingin dan air mata buatan kadang meringankan ketidaknyamanan pada kasus-kasus ringan. Jika lebih parah, perlu diobati dengan obat non steroid anti inflamasi dan anti histamine. Pada kasus allergic konjungtivitis persistent penderita mungkin perlu pengobatan tetes mata steroid
b)    Konjungtivitis Bakteri
Biasanya diobati dengan salep / tetes mata antibiotik. Perbaikan biasanya terjadi setelah 3-4 hari pengobatan. Dosis yang tepat perlu diperhatikan untuk mencegah kekambuhan
c)    Viral Konjungtivitis
Antibiotik tidak akan menyembuhkan infeksi virus. Gejala biasanya dapat berkurang dengan pemberian kompress dingin dan tetes air mata buatan. Untuk kasus yang parah, topical steroid diperlukan untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat radang tetapi tidak memperpendek lama infeksi.
d)    Konjungtivitis Kimia
Pengobatan untuk konjungtivitas kimia memerlukan pembalasan mata dengan saline dan topical steroid. Luka kimia misal karena alkali merupakan tindakan  gawat darurat karena dapat menyebabkan kerusakan intraokuler, bahkan kehilangan mata

G.  Komplikasi
1.    Stapilokokus Blefarokonjungtivitis, Gonokok menyebabkan perforasi kornea, dan endoftalmitis dan meningokok dapat menyebabkan septicemia atau meningitis
2.    Keratitis
3.    Virus Herpetik dapat menyebabkan parut pada kelopak, neurargia, katarak, glaucoma, kelumpuhan syaraf III, IV, atrofi saraf optic dan kebutaan.
4.    Ulkus kornea, infeksi sekunder oleh bakteri, parut kornea dan neovaskularisasi kornea

Bagaimana cara pencegahannya, silakan download file & referensinya dibawah ini !


Read More ...

0 comments