Translator

Tampilkan postingan dengan label Penyakit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyakit. Tampilkan semua postingan


Sistem kekebalan tubuh akan terus menurun seiring bertambahnya usia. Kondisi ini menyebabkan orang lanjut usia (lansia) semakin rentan terhadap infeksi yang terkait dengan kekebalan tubuh. Beberapa vaksin direkomendasikan untuk lansia agar tidak terlalu sering sakit-sakitan.

Penyakit seperti pneumonia, infeksi saluran kemih dan infeksi kulit sangat umum terjadi pada lansia, dan kadang menjadi jauh lebih parah dibandingkan pada remaja.

Salah satu penyebabnya karena perubahan utama adalah pada organ yang disebut timus, yang berada di belakang tulang dada. Beberapa sel yang paling penting dari sistem kekebalan tubuh, yang disebut limfosit T (atau sel T) matang dalam timus, sebelum dikirim keluar ke seluruh tubuh untuk melaksanakan berbagai mekanisme perlawanan.

Seiring berjalannya usia, timus menyusut sehingga hanya menjadi sekitar 5 persen dibandingkan saat lahir, sehingga produksi sel T turun drastis. Jumlah sel darah putih lainnya juga turun drastis, dan pada saat yang sama juga menurunkan kemampuan untuk membuat antibodi. Sedangakan produksi auto antibodi yang menyerang jaringan tubuh sendiri, justru sedikit meningkat.

Perubahan penting lainnya adalah berkurangnya daya hambat pada infeksi seperti kulit menjadi lebih tipis. Sehingga menyebabkan retakan kecil pada kulit yang memungkinkan bakteri masuk ke dalam tubuh. Lapisan usus juga berubah, sehingga memungkinkan mikroorganisme masuk ke dalam tubuh lebih mudah.

Para lansia harus berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu untuk mengetahui vaksin apa yang perlu didapatkan.

Seperti dikutip dari BBCHealth, Rabu (2/11/2011), berbagai macam vaksin yang direkomendasikan untuk lansia, antara lain:

1. Vaksin flu musiman
Vaksin ini biasanya direkomendasikan untuk semua orang berusia 65 tahun ke atas, yang kurang mampu memerangi flu, dan lebih mungkin untuk mengalami komplikasi atau kematian oleh karena flu.

Vaksin ini harus diberikan setiap tahun karena virus flu selalu berubah. Dosis yang lebih tinggi mungkin diperlukan pada lansia.

2. Pneumococcus polysaccharide (PPV)
Vaksin ini melindungi diri dari sepertiga strain bakteri Streptococcus pneumoniae, yang juga dikenal sebagai pneumokokus.

Sekitar 50-70 persen vaksin ini efektif dalam mencegah jenis penyakit yang lebih serius seperti pneumonia pneumokokus, sepsis (keracunan darah) dan infeksi lainnya. Vaksin ini direkomendasikan untuk semua orang yang berusia lebih dari 65 tahun.

3. Varisela (cacar air)
Vaksin ini dapat melindungi tubuh dari virus cacar, yang cenderung menyebabkan gejala yang jauh lebih buruk pada orang dewasa daripada pada anak-anak.

Vaksinasi ini tidak banyak digunakan di Inggris, tetapi dapat direkomendasikan untuk orang dewasa yang ketika kanak-kanak belum terinfeksi, sehingga belum imun terhadap virus tersebut.

4. Herpes zoster
Herpes zoster adalah ruam kulit yang menyakitkan yang disebabkan oleh reaktivasi dari virus Varicella zoster (VZV) yang menyebabkan cacar air. Penyakit ini paling umum terjadi pada orang tua dan dapat menyebabkan gejala yang cukup parah dan rasa sakit kronis yang dapat berlangsung berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.

Joint Committee on Vaccination and Immunisation telah menyarankan program vaksinasi keseluruhan herpes zoster akan direkomendasikan untuk orang berusia 70-79 tahun.

5. Tambahan vaksin di masa kanak-kanak
Ada bukti yang berkembang bahwa kekebalan terhadap penyakit oleh karena vaksinasi di masa kecil dapat berkurang, terutama untuk difteri atau batuk rejan. Sampling dari tes darah menunjukkan bahwa, sekitar 50 persen orang dewasa Inggris selama 30 tahun rentan terhadap difteri, meningkat menjadi lebih dari 70 persen pada lansia.

Vaksin lain seperti vaksin tetanus yang dikenal memiliki efek terbatas, dan tambahan vaksin diberikan setiap 10 tahun. Sehingga tambahan vaksin juga direkomendasikan untuk diberikan pada lansia.

6. Melindungi orang dewasa yang memiliki risiko
Beberapa vaksin dapat direkomendasikan untuk orang dewasa jika mereka memiliki risiko tinggi terhadap infeksi tertentu. Hal tersebut dapat termasuk travel vaccines, seperti hepatitis A, Japanese encephalitis atau demam kuning, hepatitis B, dan BCG (yang melindungi dari TBC).

Sayangnya, lansia tidak menanggapi secara positif mengenai vaksinasi seperti pada orang muda. Cara baru sedang dikembangkan untuk membuat vaksin yang lebih efektif seperti jenis baru dari pemberian vaksin yang menciptakan respons kekebalan yang lebih kuat.

Hal tersebut seperti vaksin flu yang disuntikkan ke lapisan paling atas kulit atau dengan cara menghirup untuk memberikan vaksin langsung ke paru-paru. Namun kedua cara vaksinasi tersebut sedang diuji.

Read More ...

0 comments


Penyakit diabetes merupakan penyakit kronik yang bersifat progresif dan bisa menyebabkan komplikasi pada berbagai organ tubuh. Komplikasi kaki diabetik merupakan salah satu komplikasi yang menakutkan dan bisa menyebabkan kematian.
Data menunjukkan, sepertiga pasien diabetes akan mengalami masalah pada kaki. Menurut staf Divisi Metabolik Endokrin Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM Prof.Sarwono Waspadji, komplikasi kaki diabetik terjadi karena kadar gula darah dibiarkan tinggi bertahun-tahun sehingga menyebabkan kerusakan saraf dan gangguan pembuluh darah.
"Saraf yang sudah rusak membuat pasien diabetes tidak bisa merasakan sensasi panas dan sakit pada kaki," katanya dalam acara media edukasi bertajuk Jangan Abaikan Kelainan Kaki Diabetik, Lakukan Deteksi Dini, di Jakarta (2/11/11).
Akibat menurunnya kepekaan saraf kaki, pasien diabetes menjadi rentan terhadap luka. "Luka yang tadinya kecil juga bisa berkembang menjadi borok dan infeksinya menyebar sehingga harus diamputasi," imbuhnya.
Untuk itu, pasien diabetes harus menjaga kadar gula darahnya tetap normal dan melakukan deteksi dini. "Kadar gula darah yang tinggi merupakan makanan bagi kuman yang bisa menyebabkan infeksi bertambah buruk," kata dr.Em Yunir, Sp.PD, dalam kesempatan yang sama.
Ia menjelaskan, secara umum ada 5 pilar penanganan kaki diabetik untuk mencegah risiko amputasi.
1. Lakukan pemeriksaan kaki secara rutin
Pemeriksaan ini bisa dilakukan pasien sendiri, perawat, atau dokter. "Waspadai jika ada penonjolan tulang, telapak kaki mendatar, atau jari bengkok. Pasien juga setiap saat harus melihat kakinya apakah ada luka," kata Em Yunir.
2. Identifikasi faktor risiko
Dokter akan melakukan pemeriksaan pada pasien untuk mengetahui apakah pasien beresiko tinggi menderita luka diabetik. Pemeriksaan meliputi mengetahui riwayat luka, apakah sudah menderita diabetes lebih dari 10 tahun, riwayat kadar gula darah, ada tidaknya gangguan penglihatan, dan lain sebagainya.
3. Edukasi
Memberikan eduksi kepada pasien mengenai pentingnya menjaga kadar gula darah dan perawatan kaki.
4. Penggunaan sepatu khusus sesuai bentuk telapak kaki
"Penderita diabetes dengan neuropati sering mengalami perubahan tekanan pada kaki, sehingga jangan memaksakan memakai sepatu di pasaran," kata Yunir.
5. Perawatan sebelum luka
Pasien akan diajari untuk merawat kaki secara teratur untuk menjaga kelembaban kaki serta tidak sembarangan mengobati luka sendiri.

Read More ...

0 comments


Gonore merupakan penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Bilamana tidak diobati, infeksi akut ini bisa menjadi kronis dan menjalar ke organ tubuh lain. Sayangnya, antibiotika kini makin tidak mempan untuk melawan bakteri Neisseria gonnorrhoeae penyebab gonore.
Para dokter di Inggris menyatakan antibiotika yang bianya dipakai untuk mengobati gonore atau kencing nanah ini tidak lagi efektif karena bakteri Neisseria ini kini semakin kebal. Para ahli bahkan menyebut kini sudah sampai pada titik penyakit ini tidak bisa diobati, paling tidak sampai obat baru ditemukan.
Padahal, bila tidak diobati gonore pada pria dapat mengarah pada terjadinya epididimitis. Sedang pada perempuan, penyakit ini dapat menjalar ke rahim dan saluran indung telur, yang mengakibatkan radang panggul. Penyakit radang panggul sendiri bisa menyebabkan kemandulan.
Untuk saat ini para ahli kesehatan menyarankan agar dokter berhenti menggunakan terapi konvensional yakni dengan antibiotik cefixime dan menggantinya dengan dua antibiotik yang lebih kuat, satu dengan pil dan satunya lewat suntikan. Tindakan ini dilakukan karena meningkatnya resistensi bakteri.
Dalam penelitian di laboratorium terungkap, bakteri Neisseria gonorrhoeae, memiliki kemampuan tak biasa untuk beradaptasi dan menjadi kebal pada beberapa jenis antibiotik, antara lain penisilin, tetrasilin, ciprofloxacin dan kini cefixime.
Organisasi kesehatan dunia (WHO) merekomendasikan agar pengobatan antibiotik lini pertama diganti jika kesembuhan pasien tidak mencapai 5 persen.
Prof.Cathy Ison, pakar gonorea dari Inggris mengatakan, hasil penelitian di lab menunjukkan penurunan dramatis dari sensitivitas obat yang sering dipakai untuk mengobati gonore.
"Kami sangat khawatir dengan hasil ini karena itu perlu dibuat rekomendasi panduan baru dalam pengobatan gonore untuk penggunaan obat baru yang lebih efektif," katanya.
Kendati begitu, ia menambahkan bahwa tindakan itu mungkin tidak menyelesaikan masalah. "Sejarah menunjukkan resistensi pada obat ini akan terjadi juga. Karena tidak ada terapi alternatif yang ada, kita menghadapi situasi di mana gonore tidak bisa diobati," imbuhnya.
Ia menegaskan, saat ini yang bisa dilakukan adalah melakukan pencegahan dengan cara mempraktikkan seks yang aman. "Jika obat baru tidak bisa ditemukan, cara yang bisa kita lakukan untuk mengendalikan infeksi ini adalah melakukan pencegahan," ujarnya
http://health.kompas.com, 14/10/2011)
Read More ...

0 comments

Seseorang biasanya mengonsumsi vitamin C untuk menangkal infeksi kuman seperti flu. Tapi ada cara yang lebih menyenangkan untuk mencegah flu yaitu mendapatkan pijat.

Sebuah penelitian yang dihasilnya dipublikasikan dalam The Journal of Complimentary and Alternative Medicine melaporkan bahwa pijat bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh serta membantu mengatasi stres dengan lebih baik.

Kedua kondisi ini menunjukkan bahwa pijat tidak hanya memberikan manfaat bagi kesehatan secara umum, namun membantu mencegah penyakit infeksi yang mudah menular seperti flu.

Dalam studi ini peneliti membagi peserta menjadi 2 kelompok, satu kelompok mendapatkan pijat tradisional Swedia sedangkan kelompok lainnya hanya mendapatkan sentuhan ringan yang tidak mencakup teknik terapi pijat.

Setelah 45 menit kedua kelompok diambil sampel darahnya lalu dibandingkan. Diketahui kelompok yang mendapatkan pijat tradisional Swedia mengalami peningkatan yang signifikan dalam jumlah limfosit (sel darah putih).

Seperti diketahui sel darah putih ini memainkan peran besar dalam melindungi tubuh terhadap serangan penyakit serta menurunkan kadar hormon stres yang dimiliki.

"Kami menemukan bahwa perubahan biologis terjadi ketika seseorang mendapatkan pemijatan, perubahan ini memberikan manfaat terhadap kesehatan tubuh," ujar Mark Hyman Rapaport, MD ketua departemen psikiatri dan ilmu saraf perilaku di Cedars-Sinai Medical Center, seperti dikutip dari Menshealth.com, Sabtu (8/10/2011).

Tak ada salahnya jika mendapatkan pijat secara teratur karena bisa memberikan banyak manfaat bagi tubuh seperti meningkatkan kekebalan tubuh dan memperlancar aliran darah, sedangkan pijat 5 menit di tangan juga mampu menurunkan kadar stres.



(http://www.detikhealth.com, 08/10/2011)
Read More ...

0 comments


Kanker payudara identik dengan kaum perempuan, meski sebenarnya kanker ini bisa menyerang laki-laki. Lalu pria-pria mana saja yang rentan terkena kanker payudara ?

Baik laki-laki maupun perempuan memiliki jaringan payudara yang berada di bawah puting dan sekitarnya. Hal yang membedakan adalah hormon laki-laki mencegah jaringan payudara ini untuk tumbuh.

Data menunjukkan perempuan memang 100 kali lebih mungkin mengalami kanker payudara dibanding laki-laki. Kondisi ini karena laki-laki memiliki jaringan payudara yang lebih sedikit dibanding perempuan. 
Ada 2 jenis kanker payudara yang umum menyerang laki-laki yaitu:

1. Infiltrating ductal carcinoma (IDC), jenis ini dimulai di saluran payudara kemudian menembus dinding saluran dan menyerang jaringan lemak payudara. IDC menyumbang sekitar 80-90 persen dari semua kanker payudara laki-laki.
2. Ductal carcinoma in situ (DCIS), sel-sel kanker ini mengisi saluran tapi tidak menyebar ke jaringan lemak atau di luar payudara. Jumlahnya hanya sekitar 10 persen dari kasus kanker payudara pada laki-laki.

Penyebab kanker payudara pada laki-laki hingga saat ini belum diketahui, tapi ada beberapa hal yang membuat seorang laki-laki rentan terkena kanker, seperti dikutip dari Askmen, Senin (3/10/2011) yaitu:

1. Laki-laki yang menjalani perawatan estrogen, umumnya orang dengan kanker prostat akan menggunakan estrogen sebagai terapi hormonalnya, kondisi ini meningkatkan risiko kanker payudara.

2. Laki-laki dengan sindrom Klinefelter, sindrom ini membuat laki-laki memiliki kromosom X ekstra sehingga memiliki hormon laki-laki yang rendah tapi hormon perempuan yang tinggi.

3. Laki-laki yang sering terkena paparan radiasi, laki-laki yang sering terkena radiasi di bagian dada memiliki risiko lebih tinggi mengalami kanker payudara.

4. Laki-laki yang memiliki penyakit hati, hal ini karena hati memainkan peran penting dalam metabolisme hormon seks. Jumlah hormon seks laki-laki yang memiliki penyakit hati parah seperti sirosis akan memiliki hormon perempuan yang lebih tinggi.

5. Laki-laki yang memiliki riwayat keluarga kanker payudara, sekitar 20 persen laki-laki yang terkena kanker payudara memiliki riwayat kanker dalam keluarganya.

6. Laki-laki yang tidak aktif bergerak dan obesitas, hal ini karena sel lemak mengubah hormon laki-laki menjadi hormon perempuan sehingga kadar estrogennya lebih tinggi dan meningkatkan risiko kanker payudara.

Umumnya gejala dari kanker payudara ini adalah adanya benjolan di payudara, terjadi pembengkakan, adanya kerutan di kulit seputar payudara, kemerahan atau sisik pada kulit puting dan payudara, puting masuk ke dalam serta keluar cairan dari puting.

Jika menemukan adanya benjolan maka segera konsultasikan dengan dokter, karena benjolan pada payudara laki-laki bisa karena gynecomastia atau tumor payudara non-kanker. Untuk itu dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut seperti uji klinis payudara, mamografi, USG payudara dan biopsi.
Read More ...

0 comments



DEFINISI
Aids merupakan efek dari perkembang biakan virus HIV dalam tubuh makhluk hidup. Virus yang menginfeksi system kekebalan tubuh  merusak fungsi sel sel kekebalan tubuh sehingga system kekebalan tubuh semakin lemah dan individu semakin rentan terhadap penyakit-penyakit. (WHO)

PENYEBAB
HIV adalah anggota dari genus lentivirus, bagian dari keluarga retroviridae  yang ditandai dengan periode latensi yang panjang dan sebuah sampul lipid dari sel-host awal yang mengelilingi sebuah pusat protein/RNA. Dua spesies HIV menginfeksi manusia: HIV-1 dan HIV-2. HIV-1 adalah yang lebih "virulent" dan lebih mudah menular, dan merupakan sumber dari kebanyakan infeksi HIV di seluruh dunia; HIV-2 kebanyakan masih terkurung di Afrika barat



GEJALA
Gejala Aids meliputi :
1)    Gejala Mayor:
(a)    Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan
(b)    Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan
(c)    Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan
(d)    Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis
(e)    Demensia/ HIV ensefalopati

2)   Gejala Minor:
(a)   Batuk menetap lebih dari 1 bulan
(b)   Dermatitis generalisata
(c)    Adanya herpes zostermultisegmental dan herpes zoster berulang
(d)    Kandidias orofaringeal
(e)    Herpes simpleks kronis progresif
(f)     Limfadenopati generalisata
(g)    Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita
(h)    Retinitis virus sitomegalo

Tahap / Stadium AIDS
 Ada beberapa Tahapan ketika mulai terinfeksi virus HIV sampai timbul gejala AIDS:
1)   Tahap 1: Periode Jendela
a)     HIV masuk ke dalam tubuh, sampai terbentuknya antibody terhadap HIV dalam darah
b)     Tidak ada tanda2 khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat
c)     Test HIV belum bisa mendeteksi keberadaan virus ini
d)     Tahap ini disebut periode jendela, umumnya berkisar 2 minggu - 6 bulan
2)   Tahap 2: HIV Positif (tanpa gejala) rata-rata selama 5-10 tahun:
a)    HIV berkembang biak dalam tubuh
b)   Tidak ada tanda-tanda khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat
c)  Test HIV sudah dapat mendeteksi status HIV seseorang, karena telah terbentuk antibody terhadap HIV
d)  Umumnya tetap tampak sehat selama 5-10 tahun, tergantung daya tahan tubuhnya (rata-rata 8 tahun (di negara berkembang lebih pendek)
3)   Tahap 3: HIV Positif (muncul gejala)
a)   Sistem kekebalan tubuh semakin turun
 b)  Mulai muncul gejala infeksi oportunistik, misalnya: pembengkakan kelenjar limfa di  seluruh tubuh, diare terus menerus, flu, dll
 c)   Umumnya berlangsung selama lebih dari 1 bulan, tergantung daya tahan tubuhnya
 4)    Tahap 4: AIDS
a)    Kondisi sistem kekebalan tubuh sangat lemah
b)    Berbagai penyakit lain (infeksi oportunistik) semakin parah

Penyebaran HIV AIDS
Menurut CDC penyebaran Aids meliputi
a.    Penyebaran HIV yang paling utama adalah:
1)     Tidak menggunakan kondom ketika berhubungan sex dengan penderita HIV
2)   Mempunyai partner sex yang banyak atau mempunyai penyakit menular sex lain dapat meningkatkan risiko infeksi
3)      Berbagi jarum suntik
4)      Lahir dari ibu yang terinfeksi HIV
b.    Penyebaran yang lainnya dapat melalui :
1)     Tertusuk jarum yang terkontaminasi HIV. Biasanya terjadi pada tenaga kesehatan.
2)     Menerima transfusi darah, transplantasi organ/ jaringan yang terkontaminasi HIV.
3)     Makanan yang dikunyahkan oleh penderita HIV. Kontaminasi muncul ketika darah  penderita HIV bercampur dengan makanan ketika dikunyah(sangat jarang terjadi dan hanya ditemukan pada balita yang dikunyahkan).
4)     Kontak antara kulit yang rusak, luka atau membran mukosa dengan darah yang terinfeksi HIV atau darah yang terkontaminasi cairan tubuh.
5)     Kecil kemungkinan ditularkan melalui French kiss jika mulut atau gusi berdarah.
6)     Tato atau tindik menunjukkan penyebaran potensial HIV namun tidak ada kasus   penularan HIV dari aktivitas ini yang dilaporkan. Tatto dan tindik seharusnya memakai alat yang steril.
7)     Pernah dilaporkan di Eropa dan Afrika Utara dimana bayi terinfeksi melalui jarum kemudian menularkan ke ibunya saat menyusui
HIV tidak dapat berkembang biak diluar tubuh, sehingga tidak menyebar melalui :Air atau udara, serangga termasuk nyamuk, air mata, keringat, jabat tangan, social kissing.

Pencegahan HIV AIDS  (www.CDC.gov) :
1)  Ketahui status HIV. Semua orang yang berusia antara 13 dan 64 tahun harus di test HIV setidaknya sekali. Jika berada di lingkungan yang berisiko tinggi HIV, maka test dilakukan setidaknya sekali setahun.
2)  Abstain (tidak melakukan hubungan seksual atau menjalani hubungan monogamy dengan orang yang tidak tertular)
3)  Batasi jumlah partner sex. Semakin kecil partner sex, semakin kecil orang lain tertular HIV atau penyakit PMS lain.
4)  Menggunakan condom secara benar dan terus menerus. Kondom Latex lebih efektif mencegah penularan HIV dan PMS lain.
5)    Menjalani test dan pengobatan PMS termasuk partner sex juga.
6)    Sirkumsisi bagi pria juga menunjukkan dapat mengurangi penyebaran HIV
7)  Mengurangi atau menghentikan penggunaan obat suntik. Jika tidak dapat menghentikan obat suntik, gunakan jarum steril  
8)   Memperoleh pengobatan medis segera jika merasa terpapar HIV. Terkadang pengobatan dapat mencegah infeksi jika cepat diperoleh. Ini disebut post-exposure prophylaxis

Pencegahan HIV (www.who.org) meliputi : Penggunaan kondom secara tepat dan konsisten, mengurangi jumlah partner sex, tes HIV dan konseling, menunda hubungan sex,pengobatan PMS dan sirkumsisi bagi pria.
WHO merekomendasikan pemberian imunisasi bagi anak-anak dengan infeksi HIV tanpa gejala dengan vaksin-vaksin EPI (EXPANDED PROGRAMME ON IMMUNIZATION); anak-anak yang menunjukkan gejala sebaiknya tidak mendapat vaksin BCG. Di AS, BCG dan vaksin oral polio tidak direkomendasikan untuk diberikan kepada anak-anak yang terinfeksi HIV tidak perduli terhadap ada tidaknya gejala, sedangkan vaksin MMR (measles-mumps-rubella) dapat diberikan kepada anak dengan infeksi HIV.

Pencegahan dan pengendalian infeksi bagi tenaga kesehatan (WHO) :
a)  Lakukan kebersihan tangan (gunakan sabun dan air atau alkohol oles), dan cuci pergelangan tangan dan sela sela jari-jari, paling tidak 30 detik.
b)  Gunakan sepasang sarung tangan untuk 1 pasien atau 1 prosedur (jangan menggunakan sarung tangan yang sama untuk lebih dari 1 pasien)
c)   Gunakan spuit, jarum suntik atau lancet untuk 1 pasien
d) Disinfeksi/bersihkan kulit tempat penusukan (jangan menyentuh lokasi penusukan setelah didisinfeksi)
e)   Jangan meninggalkan jarum tanpa penutup terletak di luar sharp container (tempat jarum)
f)    Jangan menutup kembali jarum suntik menggunakan kedua tangan
g)   Sharp container (container jarum) jangan sampai terlalu penuh
h)  Letakkan tabung sampel lab di rak yang kokoh sebelum menyuntik, hindari menyuntik sambil memegang tabung sampel lab
i)  Laporkan segera kejadian / kecelakaan yang berhubungan dengan jarum suntik dan cari pertolongan. Post Exposure Prophylaxis tidak efektif lebih dari 72 jam.

  Penatalaksanaan
a.   Penatalaksanaan bagi yang terpapar / terkena HIV (WHO)
Rujuk orang yang terkena risiko penularan kepada orang yang terlatih untuk mendapatkan evaluasi medis.  Keputusan dilakukan tindakan PEP (Post Exposure Prophylaxis)  atau tidak harus berdasarkan beberapa kriteria yaitu :
1)      PEP direkomendasikan bila memenuhi kriteria :
a)  Terpapar dalam waktu kurang dari 72 jam
b)  Individu yang terpapar tidak diketahui terinfeksi HIV
c)   Sumber paparan adalah infeksi HIV atau tidak diketahui
d)   Paparannya adalah satu atau lebih dari : darah, jaringan tubuh, cairan tampak bernoda darah, terkonsentrasi virus, cairan cerebrospinal, cairan sinovial, cairan pleura, cairan peritoneal, cairan ketuban,
e)   Paparan melalui satu atau lebih hal berikut: penetrasi kulit dengan perdarahan secara spontan atau luka tusuk yang dalam, terpercik sejumlah cairan ke membran mukosa
2)      PEP tidak direkomendasikan bila :
a)      Lebih dari 72 jam sejak terkena
b)     Orang yang terpapar sudah positif HIV
c)     Paparan ke cairan tubuh dari orang yang diketahui negatif HIV (sekalipun orang ini terindikasi risiko tinggi terinfeksi dan berada pada tahap jendela
d)     Paparan berupa cairan non infeksius tubuh (misal feses, air ludah, urin, atau keringat)

b.   Pengobatan.
Pengobatan HIV Aids secara medis menggunakan obat  anti-retroviral virus (ARV). ARV adalah suatu obat yang adapat digunakan untuk mencegah reproduksi retrovirus ( virus yang terdapat pada HIV). Obat ini tidak untuk mencegah penyebaran HIV dari orang yang terinfeksi ke orang lain, tidak untuk menyembuhkan infeksi HIV dan juga tidak berfungsi untuk membunuh virus (agar tidak berkembang menjadi AIDS karena jika hal ni terjadi maka akan membuat kerusakan pada sel tubuh yang terkena infeksi virus tersebut). Antiretroviral digunakan untuk memblokir atau menghambat proses reproduksi virus, membantu mempertahankan jumlah minimal virus di dalam tubuh dan memperlambat kerusakan sistem kekebalan sehinga orang yang terinfeksi HIV dapat merasa lebih baik/nyaman dan bisa menjalani kehidupan normal.

c.    Nutrisi
a.  Terdapat hubungan yang komplex antara HIV dan nutrisi. HIV menurunkan sistem imun secara terus menerus dan menyebabkan terjadinya malnutrisi. Malnutrisi menyebabkan menurunnya sistem imun. Malnutrisi memperburuk efek HIV dan mempercepat proses AIDS.(WHO)
b.  The Durban consultation meeting  Nutrition and HIV/AIDS (2005 ) menyebutkan 6 area penting yang memerlukan perhatian dalam perawatan dan pengobatan orang pengidap HIV AIDS, yaitu
1)      Macronutrient
2)      Micronutrient,
3)      Nutrisi pada wanita hamil dan menyusui,
4)      Gangguan tumbuh kembang anak,
5)      Pemberian asi dan penyebaran HIV
6)   ARV (anti retro virus). Area tersebut memberikan nutrisi adequate dan merupakan intervensi yang penting bagi penderita HIV.
c.    Nutrisi yang optimal dapat menolong penderita dalam :
1)   Mempertahankan berat badan sehingga meningkatkan produktivitas status kesehatan
2)  Menurunkan masalah kesehatan yang diakibatkan oleh HIV seperti diare, penurunan  masa otot, berat badan turun dan demam.
3)    Meningkatkan sistem kekebalan melalui pemberian vitamin dan mineral
4)    Meningkatkan efektivitas pengobatan melawan infeksi and Anti Retroviral Terapi.
5)  Nutrisi merupakan bagian yang penting dalam perawatan HIV, perawatan dan pengobatan HIV bukan hanya dengan menyediakan anti-retroviral.
Prof. Nigel Rollins, Maternal and Child Health, University of KwaZulu-Natal, Afrika Selatan mengatakan diperlukan nutrisi yang tinggi bagi penderita HIV terutama berkaitan dengan infeksi HIV dan kemungkinan terjangkitnya infeksi yang berhubungan dengan HIV. Energi diperlukan ketika :10 % ketika tanpa gejala, 25-30% dengan TB, penyakit paru-paru kronis dan diare persisten, 50-100 % ketika terjadi malnutrisi yang serius.  Efisiensi penggunaan energi juga dipengaruhi dari ketersediaan micronutrien. Meskipun demikian diperlukan keseimbangan diet diantara semua nutrient (makro dan mikro).
Penurunan selera makan dan asupan makanan merupakan penyebab utama terjadinya penurunan berat badan pada penderita AIDS. Pertumbuhan yang terganggu biasanya terjadi pada anak yang terinfeksi HIV dan menunjukkan perkembangan penyakit HIV serta mengurangi harapan hidup. Diare pada anak biasanya berhubungan dengan kegagalan pertumbuhan.

Pengaruh Sosial bagi penderita AIDS
Penderita Aids seringkali mendapat reaksi yang tidak baik dengan masyarakat. Hal terkait persepsi masyarakat terhadap penyakit ini. Kurangnya sosialisasi tentang penyakit Aids menimbulkan berbagai tindakan yang berefek penderita dikucilkan. Tindakan-tindakan pengasingan penolakan, diskriminasi, dan penghindaran atas orang-orang yang diduga terinfeksi HIV merupakan dampak sosial yang mereka terima di masyarakat. Oleh karena itu, beberapa intervensi dilakukan untuk mengurangi efek tersebut diantaranya :
a.   Pendekatan secara informasi, pendekatan ioni bias dilakukan dengan memasanga iklan, leaflet, penyuluhan kesehatan, dan presentasi kesehatan di kelas atau di perkuliahan. Inforamsi yang disampaikan definisi penyakit, cara-cara penularan, cara-cara untuk menurunkan resiko penularan.
b.   Pendekatan secara konsultasi,
c.   Kontak dengan grup yang terpapar di masyarakat
d.   Meningkatkan tingkat pengetahuan masyarakat


Download file + daftar pustaka dibawah ini
 

Read More ...

0 comments